LAPORAN MINGGUAN AYAM BROILER

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ayam Broiler adalah ayam tipe pedaging jantan/betina yang dipotong pada umur muda yaitu 4-5 minggu. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Diketahui pula bahwa ayam broiler telah dikembangkan dengan sangat pesat di setiap negara. Di Indonesia sendiri, usaha ternak ayam pedaging dapat dijumpai di setiap provinsi.

Di Indonesia, ayam ini dijumpai dalam beberapa galur diantaranya adalah Hybro (Belanda), Lohman (USA), Cobb (USA), Ross (USA, U.K), Hubbard (Prancis), dan Hubbard Flex (Prancis). Praktikum Pemeliharaan Ayam Broiler, ayam yang dipelihara adalah broiler galur Cobb cp. 707 yang disuplai oleh PT Charoen Pokphand Jaya Farm dengan berat DOC (Day Old Chick) ± 37 gram sejumlah 81 ekor.

Dasar pertimbangan pemilihan ayam galur ini diantaranya adalah konversi pakan yang hanya bernilai 1,5-1,7. Kita ketahui bersama bahwa pakan adalah biaya yang menghabiskan cost paling tinggi dalam setiap pemeliharaan (±70%). Keunggulan lain dari ayam ini adalah dagingnya yang tebal, diketahui 50% daging ayam ini terletak di bagian dada.

Maka dari itu untuk menegaskan agar pemeliharaan sesuai dengan kriteria-kriteria di atas, dalam praktikum ini dilakukan manajemen pemeliharaan yang baik dimulai dari persiapan kandang, pemeliharaan anak ayam, pemberian pakan dan air minum, pencegahan penyakit, penimbangan, dan pemanenan yang baik.


1.2 Tujuan

1) Mahasiswa diharapkan mengetahui, mampu menerapkan teknik pemeliharaan ayam ras tipe pedaging dengan baik dan benar.

2) Mahasiswa diharapkan tahu dan mampu untuk mempersiapkan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pemeliharaan ayam broiler ini.

3) Memberikan tempat berlatih, menambah keterampilan, wawasan, pengalaman mengenai bidang perternakan serta mempelajari persoalan-persoalan yang ada dan cara mengatasinya.

4) Selain itu praktik di lapangan bertujuan mengetahui perbedaan antara materi sangat jauh berbeda dari praktek di lapangan.

1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum Pemeliharaan Ayam Broiler ini dilaksanakan di Lapangan Program Teknologi Produksi dan Manajemen Peternakanan Direktorat Program Diploma Institut Pertanian Bogor yang bertempat di Kampus IPB Gunung Gede.

Gambar 1. Kandang

Praktikum ini sendiri dilaksanakan dengan memakan waktu lebih dari lima minggu dimulai dari tanggal 15 Februari 2010 untuk proses persiapan kandang disusul oleh kedatangan DOC pada tanggal 19 Februari 2010 hingga waktu pemanenan pada tanggal 25 Maret 2010.


BAB 2

MATERI DAN METODE

2.1 Materi

Materi yang dipakai selama Praktikum Pemeliharaan Ayam Broiler ini diantaranya mencakup :

2.1.1 Bahan

Bahan-bahan yang dipakai selama pemeliharaan yaitu :

§ Ayam broiler cobb cp. 707 (PT Charoen Pokphand Jaya Farm)

DOC ± 37 gram sejumlah 81 ekor.

§ Pakan

ü Starter Comfeed Ayam Pedaging jenis tepung (mash), dengan kandungan protein 20 - 22%.

ü Starter Gold Coin Ayam Pedaging (201-c) jenis butiran atau remah (crumble), dengan kandungan protein kasar 18 - 20%.)[1]

§ Vitamin dan antibiotik

ü DHL (DOC Herbal Liquid)

ü Endro Murni

ü Nutrimars, mengandung nutrisi esensial.

ü Prima Gentadox, mengandung Doxycyline- HCl 100 gram dan Gentamycine sulphat 100 gram.

ü Supralit, menganduk vitamin dan elektrolit.

§ Sekam

§ Air

§ Batubara (briket)

2.1.2 Peralatan

Alat-alat yang dipakai selama pemeliharaan yaitu :

§ Lampu penerangan + reflektor

§ Pemanas (brooder) yang menggunakan energi batubara

§ TRA (Tempat Ransum Ayam)

§ TMA (Tempat Minum Ayam)

§ Tambang

§ Tong air

§ Ember

2.2 Metode

Dalam praktikum pemeliharaan ayam broiler, beberapa hal yang dilaksanakan dalam pemeliharaan diantaranya:

2.2.1 Persiapan Kandang

Dalam pemeliharaan ayam ini, terlebih dahulu dilakukan persiapan terhadap prasarana ayam yang akan dipelihara. Dalam hal ini, prasarana yang yang disiapkan adalah kandang tempat pemeliharaan. Kandang ini sebelumnya telah dipakai juga untuk praktikum sebelumnya.

Kandang bekas pemeliharaan ayam dibersihkan dengan cara mengeluarkan semua peralatan yang tidak dipasang secara permanen di dalam kandang seperti brooder, lampu penerang dan reflektor, TMA, TRA, dsb. Setelah itu semua bagian kandang disemprot dengan insektisida termasuk sekam bekas untuk mencegah dan membunuh semua bibit penyakit yang ada di dalam kandang tersebut.

Kandang dibersihkan secara kering, mulai dari bagian atas kandang, dinding, dan sekam bekas dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam karung.

Kandang secara basah yaitu kandang dicuci dengan deterjen dan digosok dengan sikat, pembersihan kandang dengan deterjen ini berfungsi untuk melarutkan berbagai lemak, protein yang dihasilkan dari kotoran ayam. Kandang dibilas dengan air yang diberi disinfektan. Kandang dikeringkan sampai kering dan kandang dibiarkan selama satu minggu, tetapi lebih baik dibiarkan selama dua minggu. Hal ini berfungsi untuk mematikan bibit-bibit penyakit yang ada di dalam kandang.

Alat-alat dicuci dan didesinfektan seperti tempat pakan, tempat minum dan dicuci dengan deterjen, setelah itu alat-alat tersebut dikeringkan sampai kering. Sekam ditaburkan secara merata di seluruh kandang dan indukan ditempatkan diantara sekat-sekat kelompok pemeliharaan ayam.

Gambar 2. luas kandang per-kelompok

Luasan total kandang adalah 75 m2. Dalam Praktikum Pemeliharaan Ayam Broiler ini terdapat sepuluh kelompok kecil, sehingga luasan total kandang seluas 75 m2 dibagi rata sehingga luas kandang per-kelompok adalah 6 m2 dengan panjang 3 m dan lebar 2 m.

Gambar 3. Memasang Brooder Guard

Setelah sekat mantap terpasang, selanjutnya adalah memasang Brooder Guard. Brooder guard ini terbuat dari seng yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran yang menghabiskan 50% dari luasan total kandang. Selanjutnya adalah pemasangan lampu penerangan dan reflektor. Lampu penerangan ini disesuaikan pemasangannya sehingga seluruh kandang mendapatkan penerangan yang merata. Tempat pakan juga disiapkan dan diisi pakan yang berbentuk tepung. Yang paling penting untk persiapan kandang ini adalah penyediaan tempat minum ayam yang diisi larutan gula 10%. Tempat pakan dan minum ayam ini ditempatkan merata di sekitar kandang.

2.2.2 Persiapan Anak Ayam Datang

Dalam praktikum ini, DOC datang pukul 17:00 pada hari Jum’at, 19 Februari 2010. Anak ayam dikeluarkan dari boks sambil diperiksa kondisi fisik dan jumlahnya. Pemeriksaan kondisi fisik ini meliputi kondisi paruh, mata, bulu, pusar, dubur, dan kaki anak ayam.

Gambar 4. Anak Ayam dikeluarkan dari Boks

Pada praktikum ini, anak ayam ditimbang seluruhnya dengan penimbangan dua ekor ayam setiap penimbangan. Dalam praktikum ini, berat rata – rata anak ayam kelompok kami mencapai angka 37 gr. Angka ini sesuai dengan persyaratan pemerintah yang mencantumkan bahwa berat badan anak DOC hari pertama haruslah seberat 37 gr.

Setelah tahapan tadi, boks kosong ditimbang dan dihitung selisih antara boks isi anak ayam dengan boks kosong. Anak ayam ini sebelumnya telah divaksin di tempat penetasan sehingga pada saat anak ayam datang, anak ayam tidak perlu divaksin lagi.

Anak ayam ini selanjutnya harus diajarkan makan dan minum terlebih dahulu. Namun, pemberian minum harus didahulukan. Pemberian minuman yang mengandung glukosa harus didahulukan. Hal ini bertujuan untuk menggantikan kalori yang hilang karena proses metabolisme selama perjalanan. Diketahui bahwa glukosa adalah sumber energi yang paling cepat dimanfaatkan oleh tubuh. Dalam praktikum ini, anak ayam diberikan larutan gula 10%.

Anak ayam diketahui mempunyai sifat imprinting. Artinya ia cenderung berperilaku mengikuti sesuatu yang bergerak. Jadi dalam mengajarkan makan dan minum ayam, tidak harus seluruhnya diajarkan, hanya beberapa ekor saja. Dalam praktikum ini didapat fakta akan hal itu, anak ayam yang lain terlihat mengikuti perilaku temannya yang mematuk–matuk pakan saat penulis mengetuk–ngetuk tempat pakan mencoba mengajarkan makan pada anak ayam.

Pada kisaran waktu 6–7 jam setelah anak–anak ayam datang, DOC diperiksa apakah sudah makan. Cara pengecekan ini adalah dengan memeriksa tembolok anak ayam. Parameter yang menunjukkan bahwa ayam sudah makan ialah temboloknya yang saat diraba lembut dan berisi. Tembolok ini terletak di sebelah kanan leher anak ayam.

Seminggu atau setidaknya tiga hari pertama setelah DOC datang adalah waktu paling melelahkan dalam pemeliharaan. Anak ayam harus diberi makan delapan kali setiap hari atau setiap tiga jam sekali. Frekuensi pemberian pakan yang intensif ini bertujuan untuk perangsangan agar anak ayam cepat belajar makan. Jadwal piket untuk hari hari tersebut mengharuskan anggota kelompok terutama lelaki harus menginap di kandang. Dalam pemeliharaan ini kami sangat terbantu oleh kehadiran dua orang karyawan PT. CHAROEN PHOKPHAND yang dengan standby 24 jam membantu kami.

2.2.3 Pemeliharaan

2.2.3.1 Penggunaan Pemanas

Pertumbuhan ayam sangat dipengaruhi oleh suhu yang ideal pada DOC. Maka dari itu, pemanas atau indukan (brooder) diperlukan untuk menghangatkan anak ayam. Disamping itu, ia juga memberikan keuntungan diantaranya meningkatkan daya tahan tubuh anak ayam dan menurunkan angka kematian.

Gambar 5. Pemanas atau indukan

Dalam praktikum ini, pemanas yang digunakan adalah pemanas yang menggunakan tenaga batubara. Untuk beroperasi selama 12 jam, biasanya penghangat ini memerlukan sebanyak 12 kg batubara. Namun dalam praktikum ini, dengan 12 kg batubara pemanas hanya beroperasi selama 9-10 jam.

2.2.3.2 Pelebaran Chickguard

Chickguard atau pagar pengaman (Brooder Guard) secara umum berfungsi untuk melindungi anak ayam dari dingin dan mengurung anak ayam di sekitar indukan, dekat dengan pakan dan minum. Hal ini dimaksudkan agar ayam cepat mengenali dimana tempat yang memiliki suhu ideal baginya dan lokasi tempat pakan dan minumnya.

Dalam praktikum pemeliharaan ayam broiler ini, chickguard yang digunakan menggunakan bahan jenis seng yang pada hari pertama dilingkarkan selebar setengah luasan kandang total[2]. Luas lingkaran chickguard ini secara bertahap dilebarkan hingga akhirnya chickguard diperlebar pada hari ke ke tiga, tujuh, dan akhirnya pada hari ke-sepuluh chickguard telah diangkat seluruhnya.

2.2.3.3 Pemberian Pakan

Pemberian pakan yang dilakukan dalam praktikum ini sesuai dengan petunjuk dari penjual galur. Pada minggu pertama pakan yang digunakan adalah Starter Comfeed dengan kandungan protein 20-22%. Selanjutnya, dari minggu kedua sampai waktu pemanenan, pakan diganti menjadi Gold Coin Starter yang memiliki kandungan protein 18-20%. Pemakaian pakan jenis Gold Coin ini digunakan sampai panen.

Pada minggu pertama ayam harus diajarkan makan dengan cara mengetuk-ngetuk tempat pakan agar menarik perhatian ayam. Anak ayam diketahui bersifat imprinting, artinya ia mengikuti apa yang menarik perhatiannya. Jadi hanya sebagian anak ayam saja yang diajrkan makan, lalu anak ayam lain dengan sifat imprinting tadi akan mengikuti temannya untuk makan.

Kemampuan ayam broiler untuk tumbuh adalah 3–4 kali lipat jika dibandingkan dengan ayam kampoug dengan syarat ayam broiler diberikan kebebasanmengkonsumsi sebanyak yang diinginkannya. Kebebasan seperti ini disebut teknik pemberian pakan ad libitum (Katsir Amrullah, 2004). Pada pagi hari pakan yang diberikan tidak perlu sepenuhnya agar mengisi tempat pakan, namun cukup dengan mengalokasikan pakan sebanyak 12,5 – 20 % dari kebutuhan pakan hari tersebut.

Pemberian pakan untuk anak ayam juga harus disesuaikan dengan umur ayam. Sesuai literatur pembelajaran mata kuliah Budidaya Ayam Ras dan praktikum di lapangan, berikut adalah tabel frekuensi pemberian pakan ayam sesuai usianya.

USIA

FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN (per hari)

1 – 3 hari

8 kali

4 – 6 hari

7 kali

7 – 10 hari

6 kali

11 – 14 hari

5 kali

15 – 20 hari

4 kali

> 21 hari

2 kali

Table 1. frekuansi pemberian pakan.

Dapat dilihat bahwa pemberian pakan seharusnya mengacu pada tabel di atas, namun keterbatasan waktu perkuliahan membatasi kami memberikan makan pada empat waktu (pagi, siang, sore, malam). Keabstainan kami digantikan oleh peran dua pegawai PT. Charoen Phokphand.

Di lapangan, pakan untuk anak ayam kadang sering tercampur dengan sekam. Dalam praktikum ini, pakan tersebut tidak dibuang, tapi diayak supaya sekam dan pakan terpisah dan pakan yang telah disaring dapat dimanfaatkan kembali. Dalam pengisian pakan ini diusahakan tidak terlalu banyak sebab harus ada sisa sebelum pemberian pakan selanjutnya.

Tempat pakan tidak dibiarkan kosong karena mengakibatkan ayam saling berebut di tempat yang terisi pakan. Hal ini nantinya akan mengakibatkan pakan tumpah. Dalam praktikum ini, tempat pakan yang kosong di isi terlebih dahulu. Pemberian pakan ini dilakukan dengan hati-hati karena pakan bisa tumpah jika dituang langsung. Dalam

Gambar 7. Tempat pakan gantung (hanging feeder)

praktikum ini, pada hari ke 15 tempat pakan gantung (hanging feeder) digunakan berhubung tinggi ayam yang sudah bertambah. Penempatan tempat pakan gantung ini digantungkan sedikit di bawah tembolok ayam.

2.2.3.4 Pemberian Air Minum

Gambar 8. Pemberian Air Minum

Pemberian minum untuk ayam dalam praktikum ini, berkaitan dengan proses pencegahan penyakit. Dalam setiap pemberian minum, obat–obatan dan vitamin dicampurkan. Obat-obatan yang digunakan adalah Endro murni, Supralit, DHL (DOC Herbal Liquid), Nutrimars, dan Gentadox. Pada minggu–minggu awal, pemberian air minum ini diberikan dalam tiga sesi (pagi, siang, dan sore) namun pada minggu selanjutnya, anak ayam hanya diberikan minum pada dua sesi, yaitu pagi dan sore saja. Obat-obatan dan vitamin ini mempunyai fungsi masing-masing (label terlampir). Pemberian minum dengan campuran vitamin dan obat-obatan ini selalu tidak selalu sama dari minggu ke minggu namun disesuaikan dengan kebutuhan ayam.

Ketika pertama kali datang, pemberian larutan glukosa untuk DOC didahulukan. Hal ini bertujuan untuk menggantikan kalori yang hilang selama perjalanan dikarenakan proses metabolisme. Diketahui bahwa glukosa adalah sumber energi yang paling cepat dimanfaatkan oleh tubuh. Dalam praktikum ini, anak ayam diberikan larutan gula 10%. Adapun untuk data-data pemberian air minum yang dicampur dengan antibiotik dan vitamin dapat dilihat pada tabel (terlampir).

2.2.3.5 Pencegahan Penyakit

Pencegahan penyakit dalam praktikum ini berkaitan erat dengan pemberian air minum, karena dalam setiap pemberian air minum dicampurkan obat-obatan dan vitamin. Pemberian vitamin dan obat ini dilakukan setiap pagi, siang, dan sore pada minggu – minggu awal lalu siang dan sore hari pada minggu selanjutnya.

Pencegahan penyakit juga diantaranya adalah dengan memberikan vaksin kepada ayam, Namun selama praktikum ini, ayam tidak divaksin karena ayam sudah divaksin ketika menetas di perusahaan.

2.2.3.6 Penimbangan

Gambar 9. Penimbangan bertujuan untuk mengontrol

Penimbangan pada praktikum ini bertujuan untuk mengontrol populasi ternak dan mengetahui data aktual ternak dengan parameter-parameter tertentu dari waktu ke waktu. Data ini sangatlah penting untuk menilai keberhasilan pemeliharaan ternak.

Penimbangan ini dilakukan oleh seluruh anggota kelompok secara bergantian. Hal ini dilakukan dengan dasar pertimbangan agar ternak tidak stress karena jumlah orang yang berada di dalam kandang.

2.2.3.6 Pemanenan

Waktu pemanenan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 25 Maret 2010 pukul 16:30. Pemanenan ini sendiri dibantu oleh karyawan PT. Charoen Pokphand yang datang dengan mobil pengangkut.

Prosedur pemanenan ini sendiri adalah pertama-tama dengan menyiapkan tali rapia beberapa ikatan yang diikat melingkar. Selanjutnya ayam diikat sebanyak lima ekor setiap pengikatan dan ditimbang beratnya dengan menggunakan timbangan gantung. Setelah ditimbang, ayam ini dimasukkan ke dalam mobil pengangkutan.

BAB 3

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Hasil

3.1.1 Konsumsi Pakan

Mg ke-

Umur (hari)

Pakan yg disediakan (gram)

Sisa Pakan (Gram)

Jumlah pakan disediakan (Gram)

Konsumsi/81 ekor (Gram)

Jumlah konsumsi pakan

(gram/ekor/minggu)

Aktual

Standard

1

0 – 7

15000

300

15000

14700

181,48

160

2

7 – 14

47000

17800

47300

29500

364,19

361,9

3

14 – 21

50000

27000

67800

40800

503,70

654,9

4

21 – 28

50000

23000

77000

54000

666,66

938,9

5

28 – 34

60000

-

83000

83000

1024,69

1178,1

Total

222 (Kg)

Table 2. konsumsi pakan ayam

Konsumsi pakan =

Konsumsi pakan didapat dengan Rumus sebagai berikut :


Data Bobot Badan Dari DOC – Panen

No

DOC datang

Penimbanganminggu ke-2

Penimbanganminggu ke-3

Penimbanaganminggu ke-4

Penimbanagan minggu ke-5

BB/10 ekor DOC (gram)

BB/20 ekor ayam (gram)

BB/20 ekor ayam (gram)

BB/20 ekor ayam (gram)

BB/15 ekor ayam (gram)

1

375

9000

16000

23179

28300

2

366

9000

16000

24963

26500

3

368

9500

16280

27098

26300

4

374

9500 (21 ekor)

18900 (21 ekor)

31629 (21 ekor)

26890

5

370

-

-

-

26500

6

376

-

-

-

11450 (6 ekor)

7

365

-

-

-

-

8

413 (11 ekor)

-

-

-

-

jumlah

3007

37000

67380

106869

145940

Rata -Rata/ekor (gram)

37,12

456,79

831,85

1319,37

1801,72

Table 3. Data Bobot Badan

Keterangan :

Pada penimbangan minggu pertama kita hanya mengambil 10 ekor DOC dengan jumlah bobot badan 1800 gram.jadi dapat kami simpulkan bahwa bobot badan rata – rata DOC adalah 180 gram/ekor.

DOC 15 hari 34 hari (Panen)

Pertambahan Bobot Badan


Minggu ke

Umur (hari)

Bobot Badan (gram)

Pertambahan Bobot Badan (gram)

Aktual

Standard

1

0 – 7

180

200

143

2

7 – 14

456,79

456

276,79

3

14 – 21

831,85

932

375,06

4

21 – 28

1319,37

1467

487,52

5

28 – 34

1801,72

2049

482,35

Table 4.Pertambahan Bobot Badan

Konversi Pakan

Minggu ke

Umur (hari)

Konsumsi/ekor (Gram)

PBB

Konversi Pakan

Aktual

Standard

1

0 – 7

181,48

143

1,27

0,80

2

7 – 14

364,19

276,79

1,32

1,11

3

14 – 21

503,70

375,06

1,34

1,28

4

21 – 28

666,66

487,52

1,37

1,46

5

28 – 35

1024,69

482,35

2,12

1,62

Table 5. Konversi Pakan

Mortalitas (Kematian)

Minggu ke-

Mortalitas

Aktual

Standard

1

-

-

2

-

-

3

-

-

4

-

-

5

-

-

Table 6. Mortalitas

Keterangan :

Dari tabel di atas dapat dapat diketahui, bahwa ayam yang kelompok kami pelihara tidak ada mortalitas (kematan) yang terjadi.

FC


FC = 222 Kg

145,9 Kg

FC = 1,52

IP


IP = 348,3

RINCIAN LABA RUGI

( IOFC )

Kandang/kelompok : kampus Gunung Gede / 2

DOC Strain/jumlah : strain cobb cp. 707 (PT Charoen Pokphand Jaya

Farm)/81ekor.

Tgl Masuk : 19 Februari 2010 pukul 16.00 WIB

Tgl Panen/Umur : 24 Maret 2010/34 hari

FC : 1,52

Indeks Prestasi : 348,2

Mortalitas : 0%

Berat Rata-rata : 1,8 kg/ekor

R I Rincian Biaya

1. Biaya Pengeluaran

No

Nama Barang

Harga (Rp)

Banyaknya bahan yang digunakan selama pemeliharaan

Jumlah

1

DOC /ekor

Rp 3.500,00

81 ekor

Rp 283.500,00

2

Cuci Kandang /ekor

Rp 50,00

81 ekor

Rp 4.050,00

3

Pakan Compeed /Kg

Rp 4.950,00

15 Kg

Rp 74.250,00

4

Pakan Gold Coin /Kg

Rp 4.850,00

207 Kg

Rp 1.003.950,00

5

Supralit /250 gram

Rp 30.000,00

81

Rp 8.160,00

6

Nutrimars /1000 ml

Rp 40.000,00

81

Rp 3.600,00

7

DHL/L

Rp 40.000,00

81

Rp 3.333,00

8

Prima Gentadok /500 gram

Rp 170.000,00

80

Rp 3.377,00

9

Sekam / karung

Rp 3.500,00

8

Rp 28.000,00

10

Briket /Kg

Rp 1.650,00

25,8 kg

Rp 42.570,00

Total Biaya Pengeluaran

Rp 1.454.790,00

2. Biaya Pemasukan

No

Nama Barang

Harga (RP)

Banyaknya

Jumlah

1

Ayam

Rp 13.000,00

81 ekor (145,9 Kg)

Rp 1.896.700,00

2

Sekam

Rp 3.000,00

12 karung

Rp 36.000,00

Total Biaya Pemasukan

Rp 1.932.700,00

Table 7. Rincian Biaya

Keuntungan yang diperoleh

Total Biya Pemasukan – Total Biaya Pengeluaran

Rp. 1.932.700,00 - Rp 1.45790,00

Rp. 477.910.00.-


BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil pengamatan penulis, maka dapat di ambil kesimpulan bahwa secara umum, lokasi pemeliharaan, perkandangan, dan tatalaksana pemeliharaan yang dilakukan cukup baik, tetapi masih perlu ditingkatkan agar performa ayam yang dihasilkan memenuhi standar.

Saran

Masalah manejmen pemberian pakan yang harus diperhatikan agar dapat memenuhi angka standar bobot yang maksimal, kemudian pada saat pemberian pakan yang teratur, pemberian minum yang tidak boleh kosong.


DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, Ibnu Katsir. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Bogor: Lembaga Satu Gunungbudi

Bell, Donald D. dan W.D Weaver, Jr. ed. 2002 Commercial Chicken Meat and Egg Production. 5th ed. Kluwer Academic Publ.

Fadilah, Roni dkk. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Komara, Toni. 2009. Antara Peluang dan Ancaman Bisnis Ayam Broiler. http://toni-komara.blogspot.com/2009/01/antara-peluang-dan-ancaman-bisnis-ayam.html.copyright (19 Maret 2010)

Laili, Ayu. 2007. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging. http://tmtnews.wordpress.com/pkl-broiler/html.copyright (21 Maret 2010)

Manual Manajemen Broiler CP 707, PT. Charoen Pokphand Indonesia.

Mack, O. North dan Donald D. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual 4th ed. Avi Publishing Comp.

Purwanto, Eko. 2006. Panduan Lengkap Sukses Beternak Ayam Broiler. Bogor: Agromedia Pustaka.

Sudaryani, Titik. 2007. Teknik Vaksinasi dan Pengendalian Penyakit Ayam. Jakarta: Penebar Swadaya

Tim Karya Tani Mandiri. 2009. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Bandung: Nuansa Aulia.


LAMPIRAN



[1] Terlampir

[2]Luas kandang total adalah 6 m2 dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter

Rabu, 02 Februari 2011

pengalaman hari ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar